Minggu, 19 Februari 2012

KEMBUNG/BLOAT/TIMPANI PADA TERNAK


Apakah Kembung/Timpani/Bloat ?
Selain diare, penyakit kembung merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang ternak ruminansia terutama sapi dan domba. Meskipun terlihat sepele, sebaiknya kita selalu waspada, karena pada kasus yang berat dapat berakibat fatal dan kematian pada ternak. Ada beberapa jenis kembung, namun yang akan lebih banyak diungkap disini adalah kembung pada perut rumen (rumen bloat). Jenis lainnya adalah abomasum bloat yang seringkali lebih fatal namun jarang terjadi pada sapi dewasa.
Rumen bloat pada ternak dapat diakibatkan oleh banyak faktor. Namun secara garis besar, timbulnya kembung disebabkan karena akumulasi gas yang berlebihan di dalam rumen hewan ruminansia. Sebelum lebih jauh, mari kita melihat mengapa ini bisa terjadi.
Seperti kita ketahui, pencernaan bahan makanan di dalam perut hewan ruminansia dilakukan oleh ”kebun binatang” di dalam perut sapi. Kebun binatang yang dimaksud disini adalah jasad mikro/mikroorganisme yang secara alamiah ada di dalam perut yang bertugas melakukan pencernaan awal terhadap bahan makanan dan terutama protein. Proses pencernaan protein oleh mikroorganisme ini akan menghasilkan berbagai enzim dan asam amino yang dapat diserap oleh dinding usus ternak. Tanpa adanya mikroorganisme ini dapat dipastikan proses pencernaan makanan di dalam perut ternak tidak akan dapat terjadi.
Namun di sisi lain, proses pencernaan bahan makanan oleh mikroba juga mengeluarkan eksreksi lain berupa gas yang sebagian besar adalah karbondioksida (CO2) dan metana (CH4).
Nah gas-gas inilah yang apabila tidak sempat dikeluarkan melalui anus dengan cara berkentut atau dengan bersendawa, gas akan terakumulasi di dalam rumen. Seringkali bloat ringan seperti ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun. apabila kejadian berlanjut dan tidak ditangani, akumulasi gas terjebak ini akan membentuk buih/busa (froathy bloat) yang akan semakin sulit bagi sapi untuk mengeluarkannya.

Gejala Bloat 
Untuk itu kita perlu mengetahui beberapa gejala yang tampak ketika ternak mengalami kembung:
·         Perut bagian kiri atas membesar dan cukup keras, bila ditepuk akan terasa ada udara dibaliknya, dan berbunyi seperti tong kosong, persis ketika kita merasa kembung.
·         Ternak merasa tidak nyaman, menghentakkan kaki atau berusaha mengais-ais perutnya
·         Ternak sulit bernafas atau bernafas melalui mulut
·         Sering berkemih/kencing
·         Mengejan
·         Pada kasus yang berat akhirnya tidak dapat berdiri dan mati.

Kapan Bloat Terjadi dan Pencegahannya?
Banyak faktor yang dapat menyebabkan bloat. Beberapa yang bisa disebutkan antara lain:
·         Genetik atau keturunan (meskipun hal ini juga sulit dibuktikan)
·         Jenis, dan jumlah kandungan protein tertentu di dalam bahan pakan
·         Jumlah dan kecepatan asupan makanan
·         Tekstur bahan pakan
·         Populasi mikroba tertentu dalam rumen

Selain hal-hal diatas, hal-hal lain yang dapat berkontribusi pada terjadinya kembung sangat beragam, bisa dari suhu dan cuaca, tingkat stress, kebersihan, atau ketersediaan air. Sehingga kita harus memperhitungkan faktor-faktor diatas ketika ingin mencari penyebab dari bloat secara lebih spesifik.
Berdasarkan pengamatan dan studi literatur, penulis beranggapan bahwa makanan adalah faktor dominan penyebab kembung. Makanan yang dimaksud disini adalah pola asupan pakan dan menu. Bila ditelusuri lebih jauh, pembentukan gas yang berlebihan sering diasosiasikan pada kondisi-kondisi berikut, yang semuanya saling berkaitan:
v  Hijauan segar sangat disukai ternak, dengan kondisi perut yang lapar di pagi hari, tingkat asupan rumput akan semakin tinggi. Ternak akan sangat lahap mengkonsumsi hijauan yang langsung masuk ke dalam rumen.
v  Hijauan pada usia muda memiliki kandungan nutrisi puncak. Nutrisi yang tinggi ini juga sangat digemari oleh mikroba.
v  Hijauan di pagi hari memiliki kandungan embun dan air yang tinggi yang sering diasosiasikan sebagai pemicu bloat.
v  Hijauan di awal musim hujan sedang berada pada tahap pertumbuhan pesat dan nutrisi tinggi. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya kejadian bloat pada awal musim hujan. Dimana setelah melewati musim kemarau, ternak kangen terhadap rumput segar dan mengkonsumsinya dengan lahap.
v  Hijauan yang baru diberi pupuk juga sedang dalam kondisi pertumbuhan pesat dan nutrisi tinggi. Jenis leguminosae (kacang-kacangan) tertentu ditenggarai dapat memicu bloat selain karena kandungan protein yang tinggi.
            Kondisi diatas memicu aktivitas mikroba yang tinggi di dalam rumen. Seperti telah disinggung, aktivitas mikroba yang tinggi akan meningkatkan produksi gas dan pada gilirannya mengakibatkan bloat.

            Tidak ada tindakan pencegahan yang terbukti 100% berhasil, namun demikian untuk meminimalisir kejadian bloat, kita dapat melakukan hal-hal berikut:
ü  Jangan memberikan hijauan atau leguminosae segar, apalagi yang berusia muda di pagi hari. Berikan sarapan pada sapi rumput kering atau hijauan yang telah dilayukan. Beberapa penelitian menyebutkan, pelayuan selama 2 – 3 jam sudah cukup menurunkan kandungan air. Suatu kebiasaan yang baik apabila peternak memberikan terlebih dahulu hijauan yang dipanen pada hari kemarin untuk diberikan pada pagi hari ini. Bila tidak tersedia hijauan kering, berikan konsentrat atau hijauan segar dalam kuantitas yang kecil dan perlahan-lahan.
ü  Jangan lepaskan ternak di padang penggembalaan di pagi hari apalagi dalam keadaan perut kosong. Awali dengan rumput kering untuk meredakan nafsu makan atau tunggu ketika matahari mulai naik dan embun sudah menguap. Hal yang sama juga berlaku apabila rumput penggembalaan basah oleh air hujan.
ü  Observasi ternak di padang penggembalaan minimal 2 jam setelah diumbar. Pada rentang waktu ini biasanya bloat terjadi. Bila terlihat ada gejala, jangan terburu-buru menariknya dari grazing area, seringkali bloat dapat sembuh dengan sendirinya. Apabila gejala berlanjut, segera beri tindakan.
ü  Pastikan perut ternak terisi rumput kering/hay/serat sebelum digembalakan pada awal musim hujan. Hal ini akan mengurangi asupan rumput segar sehingga memungkinkan rumen lebih mudah beradaptasi dengan menu baru yang segar perlahan-lahan.
ü  Berikan hijauan dalam bentuk kasar. Jangan potong kecil-kecil hijauan. Semakin kasar potongan hijauan (misalnya hijauan utuh) akan semakin lambat mikrobial rumen mencerna sehingga meminimalkan kemungkinan bloat.

Cara pemberian hijauan (dan konsentrat) sedikit demi sedikit tapi dengan frekuensi yang sering adalah paling baik, sayangnya ini akan merepotkan peternak sendiri.

Beberapa ternak seringkali mengalami bloat berulang yang kronis. Mungkin disebabkan oleh faktor genetis. Bisa dipertimbangkan untuk di afkir saja. Karena sebagian besar penyebab bloat adalah proses pencernaan oleh mikroorganisme, pemberian probiotik terutama pada sapi muda dapat membantu memperbaiki fungsi rumen.

Ada beberapa obat khusus untuk pencegahan seperti pemberian anti-bloat yang disisipkan pada pakan (ionophore), antibiotik (oxytetracycline, penicillin), deterjen khusus ataupun anti-foam, namun untuk kondisi sebagian besar peternak di Indonesia hal ini kurang applicable sehingga tidak akan dibahas lebih lanjut disini.

Mengobati Bloat
Meskipun anda sudah melakukan langkah-langkah pencegahan, bloat masih dapat terjadi. Memanggil dokter atau personil kesehatan hewan merupakan tindakan yang dianjurkan. Namun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena berbagai keterbatasan. Tindakan yang dapat dilakukan oleh peternak baik secara tradisional maupun medis modern untuk mengobati bloat diantaranya adalah:
v  Ganti menu hijauan segar dengan daun kering/hay. Hal ini akan membantu pada bloat ringan. Membawa ternak berjalan jalan juga dapat membantu.
v  Bila masih berlanjut, berikan anti foam. Secara tradisional berupa minyak nabati atau lemak. Minyak bertugas sebagai pengurai buih. Kami biasanya menggunakan minyak nabati atau minyak sayur atau minyak goreng pada dosis 150 – 300 ml segera setelah bloat terdeteksi. Susu murni sebanyak 1 liter juga dapat dijadikan alternatif untuk membuyarkan buih. Obat modern anti foam untuk mengobati timpani juga tersedia dalam berbagai merek, dapat diperoleh di toko-toko obat hewan.
v  Dengan menggunakan selang (ukuran ¾” sampai 1” diameter) sepanjang 2 – 3 meter yang dilumuri dengan minyak, dimasukkan melalui mulut melalui esophageal sampai mencapai rumen untuk membantu mengeluarkan gas dari dalam rumen. Selang ini sering disebut selang esophagus/stomach tube. Cara ini terkadang berhasil namun cukup berbahaya karena dapat menganggu bagian dalam ternak. Sebaiknya mintakan saran pada dokter hewan atau latihlah dahulu sebelum bloat terjadi.
v  Apabila cara diatas tidak terlihat manjur dan kondisi ternak sudah tidak bisa berdiri sementara dokter hewan belum datang, anda harus melepaskan tekanan gas dengan paksa dengan cara melubangi dinding perut sapi. Bisa dengan menggunakan trokar (semacam penusuk, mirip paku tapi lebih besar) yang ditusukkan pada perut kiri atas, di belakang tulang rusuk. Gas yang terjebak dapat keluar melalui lubang tersebut. Apabila trokar tidak tersedia, sembarang alat yang tajam sepeti jarum suntik, jarum besar atau paku dan pisau bisa juga digunakan untuk membuat lubang sedalam kira-kira 2.5cm. Setelah ditusukkan, pisau jangan dicabut, tapi diputar miring sehingga gas bisa keluar. Namun demikian tindakan ini sebaiknya dipandang sebagai cara terakhir, karena bila salah dapat merobek rumen. Apabila ini terjadi dokter harus melakukan jahitan dan memberikan antibiotik untuk menghindari infeksi.

Beberapa pendapat teman-teman peternak tentang cara pengobatan kembung secara tradisional adalah:
v  Beberapa peternak di tempat kami mengklaim dengan memberikan air soda (sprite) 1 – 2 botol dapat membantu. Bila ditelusuri, soda dapat memudahkan sendawa. Namun demikian perlu diteliti lebih lanjut, jangan sampai kandungan gas (karbondioksida) pada soda malah terjebak dan memperparah bloat.
v  Pemberian daun nangka muda dapat mengobati sakit perut. Peternak juga suka memberikan daun nangka ini pada ternak yang mengalami bloat. Penulis tidak mengetahui secara pasti kandungan daun nangka, namun pada kasus bloat ringan dapat membantu. Mungkin karena serat kasarnya saja.
v  Memberikan air kelapa muda. Pendapat kami, air kelapa mengandung mikroorganisme probiotik, sehingga kemungkinan dapat membantu.
v  Memasukkan pelepah atau daun pepaya pada anus ternak yang mengalami bloat. Analisa kami, pepaya mengandung pektin yang sering digunakan sebagai obat diare.

Beberapa resep tradisional lain untuk mengobati bloat yang dapat kami temukan antara lain:
v  Daun kentut atau sembukan 3 genggam dan bawang merah 20 buah. Parut halus daun kentut dan haluskan bawang merah. Campur kedua bahan dan tambahkan garam. Campur air dalam botol dan minumkan. Dosis untuk satu ekor sapi dewasa.
v  Getah pepaya 2 sendok makan. Garam dapur 1 sendok makan. Campurkan secara merata dan tambah air dalam botol air mineral kemudian diminumkan. Dosis untuk satu ekor sapi pedet.

Kesimpulan
Bloat pada ternak ruminansia merupakan hasil dari beragam faktor. Elemen yang ditemukan paling berperan adalah fermentasi bahan makanan oleh mikrobial rumen yang menghasilkan gas yang tidak dapat dikeluarkan. Rumen, bloat biasanya terdeteksi dengan menggelembungnya perut kiri sedangkan abomasum bloat khas terjadi pada perut sebelah kanan. Daftar skenario penyebab dan pengobatannya merupakan daftar yang panjang. Isu-isu manajemen dan contoh kasus diatas ditampilkan bukan untuk menampilkan daftar panjang tersebut, melainkan untuk menstimulasi pemikiran dan memfasiltiasi evaluasi kita bersama. Dengan mengevaluasi dan mengatur cara kita berinteraksi dengan hewan dan manajemen kandang, banyak faktor yang berperan dalam bloat dapat kita hilangkan atau minimalkan.

sumber: Anonimus, berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar